Delik28 – Setelah berperang selama 15 bulan, kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamaspun tercapai, dan hal ini diklem sebagai kemenangan Hanmas namun dengan catatan Hamas menyerahkan daftar tiga tawanan wanita yang akan dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan dengan Israel melalui mediator mulai berlaku pada pukul 11.15 waktu setempat. Dan bersamaan dengan gencatan senjata, kubu Israel dikabarkan pecah karena beberapa kabinetnya mengundurkan diri, Ahad (19/1).
Di Gaza, tampak Ribuan warga bergembira menyambut baik kesepakatan tersebut dengan perayaan bergemuruh di seluruh jalur gaza.
Salah seorang warga mengatakan kepada wartawan Al-Jazeera: “Kegembiraan saya tak terkira, sejak mereka mengumumkan gencatan senjata, saya segera mengemasi semua barang karena saya siap berangkat ke kota Gaza. Anak-anak saya sangat senang bisa pergi dan melihat keluarga, saudara dan tanah tempat tinggal kami,” ungkapnya
“Di sini kami selalu takut dan khawatir, tetapi di rumah kami akan sangat bahagia, dan kegembiraan akan kembali dalam kehidupan kami dan semoga saja Israel tidak akan melanggarnya dalam beberapa waktu kedepan,” ucapnya.
Iya juga mengatakan yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah menyelesaikan pendidikannya, “Banyak mimpi yang hancur selama genosida ini,” pungkasnya.
Tampak petugas kesehatan dan penyelamat Gaza juga terlihat merayakan kemenangan di jalan-jalan.
Hani Mahmud wartawan Al-Jazeera mengatakan: “Tidak ada lagi pelanggaran yang di laporkan sejak gencatan senjata berlaku. Tidak ada lagi bom, tidak ada lagi jet tempur, dan tidak ada lagi pesawat nir awak. Satu-satunya suara tembakan yang kami dengar adalah dari perayaan di jalan-jalan, suara tembakan sering terdengar diikuti dan kembang api,” katanya.
Untuk di ketahui, sejak serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023 jumlah total korban Palestina hampir 47.000 orang, dan setidaknya 1.139 orang tewas di pihak Israel, namun dari kelompok Palestina dan pihak Hak Asasi Manusia (HAM) mengatakan jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
Berbeda kondisi dengan Gaza, di Israel Sabtu malam (18/1) sekitar 12 jam sebelum kesepakatan dimulai, pro-kontra terjadi. Ribuan orang berdemonstrasi mendesak pemerintah untuk berkomitmen penuh terhadap kesepakatan pembebasan sandera dengan Hamas.
Pada saat yang sama, ratusan orang mengutuk kesepakatan yang ditandatangani dengan kelompok HAMAS. Mereka tidak menyetujui kesepakatan bertahap. Para pengunjuk rasa di Yerusalem menuntut perjanjian komprehensif yang akan membebaskan semua tawanan sekaligus dan bukan bertahap dengan alasan untuk menghindari resiko bahwa beberapa dari 98 Sandera dapat tertinggal selama kesepakatan multi- tahap tersebut.
Di lansir media Time of Israel, kesepakatan yang ditanda tangani hari Jumat oleh negosiator Israel dan Hamas di Qatar dan dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu tahap pertama selam 42 hari Hamas akan membebaskan 33 sandera Israel hidup dan mati, sementara Israel akan membebaskan 1.904 tahanan Palestina sebagai imbalannya.
Partai sayap kanan Otzma Yehudit pimpinan Mentri Keamanan Nasional Ben Gvir keluar dari koalisi, menindak lanjuti ancamannya untuk keluar jika pemerintah menyetujui perjanjian gencatan senjata dengan Hamas di jalur Gaza.
Dalam sebuah pernyataan partai tersebut mengatakan bahwa tiga anggota kabinetnya- Ben Gvir, Mentri Warisan Budaya Amichai Eliyahu, dan Mentri Negev, Galille serta Mentri Ketahan Nasional Yitzhak Wasserlauf menyerahkan surat pengunduran diri kepada perdana Mentri Benyamin Netanyahu.
Selain itu anggota knesset Zvika fogel, Limor Son Har-Melech dan Yitzhak Kroiser ikut mengundurkan diri dari jabatan mereka.
(Varel Ananda)