Delik28 – Pimpinan Pondok Pesantren Al-Bashori, KH. Sofyan Tsauri, memberikan wejangan kepada para santri di depan wali santri terkait dasar-dasar ilmu quro, Ahad (7/9). Kegiatan yang berlangsung di kompleks pesantren yang berlokasi di Jalan Jagakarsa, Kampung Bobojong, Desa /Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor itu disambut antusias oleh ratusan santri.
Dalam kesempatan tersebut, pria beruban yang biasa disapa Mama Sofyan menegaskan bahwa ilmu quro bukan hanya tentang keindahan suara ketika melantunkan Al-Qur,an, tetapi lebih jauh merupakan pondasi penting dalam menjaga kemurnian bacaan sesuai kaidah tajwid. Menurutnya, setiap qori atau qoriah kelas dunia selalu memulai perjalanannya dari pemahaman dasar yang kuat.
“Ilmu quro dimulai dari hal yang sederhana: mengenal makhorijul huruf, fashohah, menguasai hukum tajwid, dan memahami adab membaca Al-Qur,an. Dari sanalah jalan menuju bacaan yang fashih, indah, dan benar-benar sesuai tuntunan akan terbuka,” ujar Mama Sofyan di hadapan para santri dan wali santri yang hadir saat kunjungan menjenguk anak-anaknya.
Ia juga menekankan bahwa setelah menguasai dasar-dasar tersebut, santri perlu melatih variasi irama dan nada. Ilmu quro, lanjutnya, bukan sekadar teknis membaca, melainkan juga seni yang memadukan suara, perasaan, dan penghayatan makna. Dengan penguasaan penuh, seorang santri bisa berkembang menjadi qori yang mampu tampil di berbagai panggung, dari tingkat desa hingga internasional.
Lebih lanjut, Mama Sofyan mengingatkan pentingnya niat ikhlas dalam menuntut ilmu quro. Menurutnya, orientasi utama santri bukan semata mengejar prestasi dalam Musabaqah Tilawatil Qur,an (MTQ), melainkan menjadikan Al-Qur,an sebagai pedoman hidup. “Kalau niatnya lillahi ta’ala, insyaAllah prestasi dunia akan mengikuti,” pesannya.
Suasana terasa khidmat saat Mama Sofyan memberikan contoh bacaan dengan lantunan khasnya. Para santri dan wali santri yang hadir tampak khusyuk menyimak, bahkan beberapa di antaranya tergerak untuk langsung mempraktikkan ilmu yang baru mereka peroleh. Hal ini menunjukkan semangat santri dalam mendalami quro sebagai bekal di masa depan dan dorongan dari kedua orang tuanya.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya Pondok Pesantren Al-Bashori dalam mencetak kader qori dan qoriah unggulan. Ponpes yang dipimpin KH. Sofyan dikenal aktif mendorong para santrinya mengikuti ajang MTQ di tingkat kecamatan hingga kabupaten, sekaligus menjadi ruang pembinaan berkelanjutan bagi generasi Qur,ani.
Dengan adanya wejangan dari KH. Sofyan Tsauri, para santri mendapatkan gambaran jelas bahwa perjalanan menjadi qori internasional dimulai dari kesungguhan menekuni dasar-dasar ilmu quro. Harapannya, pesantren Al-Bashori mampu melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga menjaga dan memuliakan Al-Qur,an sebagai pedoman hidup umat Islam.
Terakhir, Mama mengingatkan penulisan qur,an yang selama ini qur’an. Menurutnya bukan ‘ain melainkan alif, sehingga bukan qur’an melainkan qur,an dengan huruf a rapat setelah koma, karena jika dipisah seolah menjadi kalimat perintah berhenti sejenak. (DidiS)