Delik28 – Rangkaian gempa bumi yang mengguncang wilayah Sukabumi dalam beberapa hari terakhir dipastikan berasal dari aktivitas sesar aktif, bukan dari pengeboran panas bumi seperti yang diduga sebagian masyarakat. Hal itu ditegaskan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) usai melakukan pemantauan awal.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas III BMKG Sukabumi, Agung Sabtaji, menyebut gempa magnitudo 4,0 yang terjadi pada Sabtu (20/9/2025) malam memiliki mekanisme pergerakan mendatar atau strike-slip fault.
“Untuk sementara penyebab gempa masih karena sesar aktif. Belum spesifik sesar apa, karena kami masih mempelajari sebaran gempa tersebut,” jelasnya, Selasa (23/9).
Agung menambahkan, BMKG akan terus memantau aktivitas gempa dalam beberapa hari ke depan sebelum menyampaikan kesimpulan lebih detail. Ia juga membantah adanya kaitan antara gempa dengan aktivitas geothermal di Gunung Salak.
“Banyak yang mengaitkan kegempaan dengan aktivitas geothermal. Namun kami tidak memiliki data terkait aktivitas itu, sehingga tidak bisa menyimpulkan ada hubungannya,” tegasnya.
Direktur Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menguraikan fakta kejadian. Gempa utama berkekuatan magnitudo 4,0 dengan kedalaman 7 kilometer, berpusat di darat tepatnya di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.
“Jenis gempa ini adalah gempa tektonik kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif,” ungkapnya melalui keterangan resmi.
Menurut analisis sensor seismik DBJI (Darmaga) dan CBJI (Citeko), gempa menunjukkan karakteristik gelombang S yang tajam dan berfrekuensi tinggi, memastikan tidak terkait dengan aktivitas vulkanik. BMKG juga memastikan gempa tidak berhubungan dengan Sesar Citarik, karena pusat gempa utama dan susulannya tersebar di barat jalur sesar tersebut.
Guncangan gempa dirasakan warga di Kalapanunggal dan Kabandungan dengan intensitas III–IV MMI, di Pamijahan dan Leuwiliang III MMI, di Bogor II–III MMI, serta di Palabuhanratu dan Depok II MMI. Kerusakan ringan tercatat di Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan: lima rumah terdampak, 20 jiwa mengungsi, dan 25 jiwa terdampak darurat. Meski begitu, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka.
BMKG mencatat hingga Minggu malam telah terjadi 39 kali gempa susulan, lima di antaranya dirasakan warga dengan magnitudo terbesar 3,8 dan terkecil 1,9. Daryono mengingatkan bahwa gempa di wilayah tersebut pernah berulang, antara lain pada Maret 2020 yang merusak ratusan rumah di enam kecamatan, serta pada Desember 2023 di Pamijahan dan sekitarnya.
BMKG menegaskan masyarakat tidak perlu terjebak spekulasi, melainkan tetap waspada dan memastikan bangunan rumah memenuhi standar tahan gempa untuk meminimalkan risiko. (Dipidi)