Delik28 – Sejarah Indonesia kadang seperti sinetron panjang: tokohnya bisa berganti peran sesuka penulis naskah. Tahun 1998, seorang pemimpin digulung gelombang mahasiswa, dijatuhkan seperti aktor antagonis yang kehilangan kontrak. Dua puluh enam tahun kemudian, entah karena ingatan publik mulai memudar atau karena strategi pencitraan semakin canggih, tokoh yang sama justru dipromosikan sebagai pahlawan pembangunan.
Dulu, mahasiswa berteriak lantang di jalanan, membawa spanduk, poster, dan mimpi tentang Indonesia baru. Mereka menuntut perubahan, mengutuk kebijakan-kebijakan yang dianggap mengekang rakyat. Ironisnya, kini sebagian dari generasi muda yang bahkan tidak sempat merasakan krisis 98, sibuk membagikan konten heroisme sang tokoh di media sosial, lengkap dengan musik dramatis dan narasi “visioner”.
Seakan lupa bahwa era tersebut tidak lahir dalam ruang hampa, beberapa pihak kini mencoba menjual ulang masa lalu dengan kemasan premium. Pencitraan ini dipoles dengan apik: pembangunan yang dulu dianggap biasa saja kini disulap menjadi “warisan besar bangsa”, sementara kontroversi dilipat rapi dan disembunyikan di bawah karpet.
Lebih satir lagi, banyak yang kini memuji “ketegasan dan kejernihan kepemimpinan” sang tokoh, meski dahulu hal-hal itulah yang dikritik habis-habisan. Publik menyimak sejarah seperti menonton iklan sabun: yang penting tampil bersih, tidak masalah fakta sebelum dan sesudahnya bertolak belakang.
Berbagai lembaga, relawan, dan pengagum baru muncul membawa narasi bahwa tokoh yang digulingkan ratusan ribu mahasiswa ini sesungguhnya korban salah paham sejarah. Mereka memoles ulang citranya, seolah waktu 26 tahun telah menghapus semua kerumitan politik masa itu. “Kalau dipikir-pikir, dia itu pahlawan,” begitu kira-kira suara baru yang kini digoreng hangat-hangat.
Satirnya, banyak dari yang dulu berdiri di barisan penentang kini justru berada di ring paling depan merayakan “jasanya”, barangkali karena kursi kekuasaan lebih empuk dari trotoar tempat mereka berorasi dulu. Sejarah memang lucu: kadang idealisme bisa berubah menjadi nostalgia penuh kompromi.
Advertorial ini hadir bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan bahwa sejarah mudah dimanipulasi ketika publik lebih suka narasi instan daripada membaca ulang konteks masa lalu. Jika dulu seorang tokoh bisa dijatuhkan karena dianggap salah, dan kini diangkat karena dianggap benar, mungkin masalahnya bukan pada tokohnya, melainkan pada ingatan kolektif yang mudah dinegosikan.
Pada akhirnya, perjalanan dari “yang digulingkan” menjadi “yang dipuja” menunjukkan bahwa reputasi di negeri ini bisa berubah lebih cepat dari trending topic. Dan seperti biasa, sejarah pun tersenyum sinis melihat manusia yang begitu mudah terpikat oleh narasi baru, meski bab lamanya belum pernah benar-benar dibaca tuntas.
(Didi Sukardi)