Delik28- dibalik dinamika dunia pendidikan tinggi Indonesia, terdapat nama-nama yang bekerja dalam senyap namun memberi pengaruh nyata. Salah satunya adalah Prof. Dr. Arwildayanto, S.Pd., M.Pd., putra Lakitan, Kabupaten Pesisir Selatan. Di usia yang relatif muda, ia kini mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo. Perjalanannya adalah potret tentang ketekunan akademik, konsistensi intelektual, dan keberanian merantau demi ilmu pengetahuan.
Lahir sekitar lima dekade silam, Arwildayanto tumbuh dari lingkungan yang sederhana namun sarat nilai pendidikan. Dari Pesisir Selatan, ia membawa semangat belajar yang kelak membawanya menapaki dunia akademik secara berjenjang. Jalan panjang itu tidak ditempuh secara instan, melainkan melalui proses pendidikan formal yang disiplin dan berkelanjutan.
Pendidikan tinggi Arwildayanto dimulai di Universitas Negeri Padang (UNP). Di kampus inilah ia menamatkan pendidikan sarjana dan pascasarjana, membangun fondasi keilmuan di bidang pendidikan. Setelah itu, ia melanjutkan studi doktoral di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), sebuah fase penting yang memperluas perspektif akademiknya dan mengukuhkan kapasitasnya sebagai peneliti dan pemikir pendidikan.
Kiprahnya di dunia akademik berkembang pesat ketika ia menapaki karier di Universitas Negeri Gorontalo. Di tanah rantau, Arwildayanto tidak hanya menjalankan tugas sebagai dosen, tetapi juga aktif dalam pengembangan kelembagaan, riset, dan penguatan mutu pendidikan. Kepercayaan demi kepercayaan datang, hingga akhirnya ia dipercaya memimpin Fakultas Ilmu Pendidikan sebagai dekan.
Puncak perjalanan akademiknya tercapai ketika Arwildayanto meraih gelar profesor. Di lingkungan perguruan tinggi, gelar tersebut bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas kontribusi ilmiah, produktivitas riset, dan dedikasi panjang terhadap pengembangan ilmu. Meraih gelar profesor pada usia yang relatif muda menempatkan Arwildayanto sebagai salah satu akademisi yang menonjol dalam bidangnya.
Menariknya, meski namanya tidak sering terdengar di kampung halaman, kiprah Arwildayanto justru dikenal luas di Gorontalo. Di sana, ia dipandang sebagai figur akademik yang tenang, bekerja sistematis, dan memiliki visi pendidikan jangka panjang. Reputasi itu tumbuh bukan dari sorotan, melainkan dari kerja yang konsisten dan terukur.
Bagi Pesisir Selatan, Arwildayanto adalah contoh nyata bahwa putra daerah mampu berkiprah dan mencapai puncak akademik di tingkat nasional. Ia membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk menembus ruang-ruang strategis dunia pendidikan tinggi Indonesia. Prestasinya menjadi cermin bagi generasi muda daerah untuk berani bermimpi dan menempuh jalur akademik dengan sungguh-sungguh.
Jejak Arwildayanto di dunia pendidikan masih terus berlanjut. Sebagai profesor dan dekan, tanggung jawabnya kini bukan hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga menyiapkan generasi pendidik masa depan. Dari Lakitan ke Gorontalo, perjalanannya menegaskan satu pesan sederhana namun kuat: ilmu pengetahuan tumbuh dari kesetiaan pada proses, dan pengabdian menemukan maknanya dalam ketekunan.
(Baim)