Delik 28 – Tiga fotografer jurnalistik tewas pada Rabu (21/1/2026) saat menjalankan tugas peliputan di Jalur Gaza. Ketiganya dilaporkan bekerja untuk Komite Bantuan Mesir dan tengah mendokumentasikan kondisi kamp-kamp pengungsi ketika kendaraan yang mereka tumpangi ditembak.
Juru bicara organisasi kemanusiaan tersebut menyatakan mobil yang menjadi sasaran memiliki tanda dan logo resmi organisasi serta sedang digunakan dalam misi kemanusiaan. Serangan itu mengakibatkan tiga orang di dalam kendaraan tersebut tewas di lokasi kejadian.
Kelompok Hamas mengecam insiden tersebut dan menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya” serta pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang tengah berlangsung.
Sementara itu, Serikat Jurnalis Palestina menilai penembakan tersebut sebagai kejahatan perang. Dalam pernyataannya, organisasi itu menuding adanya “kebijakan sistematis Israel yang bertujuan membungkam suara Palestina, menghalangi penyampaian fakta di lapangan, dan menyembunyikan kejahatan terhadap warga sipil,”
sebagaimana dikutip kantor berita Palestina, Wafa, salah satu korban diketahui bernama Abdul Raouf Shaat, kontributor tetap kantor berita Prancis Agence France-Presse (AFP). AFP menyatakan “kesedihan yang mendalam” atas kematian Shaat dan menuntut dilakukan “penyelidikan penuh dan transparan” terkait insiden tersebut.
Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists/CPJ) yang berbasis di Amerika Serikat juga menyatakan keterkejutannya. Direktur regional CPJ, Sara Qudah, menegaskan bahwa Israel, sebagai pihak yang memiliki teknologi militer canggih, berkewajiban berdasarkan hukum internasional untuk melindungi jurnalis.
Menurut data CPJ, sedikitnya 206 jurnalis dan pekerja media telah tewas akibat tembakan Israel di Gaza sejak awal perang. Angka tersebut menjadikan konflik ini sebagai yang paling mematikan bagi jurnalis yang pernah didokumentasikan organisasi tersebut.
BBC dan sejumlah media internasional lainnya saat ini sangat bergantung pada jurnalis lokal di Gaza untuk melaporkan situasi di lapangan. Israel hingga kini tidak mengizinkan media asing masuk ke wilayah tersebut secara independen. Beberapa jurnalis asing hanya dapat masuk melalui pengawalan militer Israel dengan akses yang sangat terbatas.
( Tan bagindo journal, sumber : BBC)