Delik28 — Suasana halaman kantor Desa Cilebut Timur, Kecamatan Sukaraja, Senin (6/10), mendadak berubah jadi lautan kerudung dan senyum. Dari mikrofon yang bergetar lembut, lantunan shalawat terdengar, menandai dimulainya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, momen tahunan yang tak sekadar seremonial, tapi juga bahan renungan kolektif: sudah seberapa dalam sebenarnya kita mencintai Rasulullah?
Ketua MUI Desa, Ust. Mulyadi, membuka dengan pengingat sederhana tapi kerap terlupakan: iman itu paket lengkap, dari Allah, malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, sampai takdir baik dan buruk. Enam rukun yang sering dihafal sejak kecil, tapi entah masih di hati atau sudah terselip di dompet bersama kartu BPJS.
Tepat pukul 10.00 WIB, KH Syahrul Sidiq, kiai nyentrik asal Semplak yang dikenal dengan gaya ceramah “antara tawa dan air mata”, naik panggung. Dengan logat Bogor Barat yang hangat, ia menebar tanya yang membuat hadirin diam: “Sholat mana yang kita banggakan untuk masuk surga, kalau badan sholat tapi pikiran keluyuran?”
Ibu-ibu pun tertawa kecil, sebagian mungkin merasa tersindir halus. Karena siapa yang tak pernah sholat sambil ingat jemuran?
“Kalau guru kita ke mana-mana inget sholat, kita justru sholat inget ke mana-mana,” katanya, disambut tawa yang menutupi rasa malu.
KH Syahrul mengajak untuk memperbaiki bacaan, memperdalam makna ibadah, dan yang paling penting jangan berhenti belajar.
“Belajar itu wajib, minal mahdi ilal lahdi. Dari ayunan sampai liang lahat,” ujarnya.
Bahkan kalaupun sudah sepuh, katanya, belajar tetap berpahala meski hasilnya mungkin tak sejernih generasi muda. Karena belajar bukan soal nilai ujian, tapi soal menolak menjadi “bodoh yang bangga diri”.
Kiai juga menyelipkan pesan soal pendidikan anak. “Kalau kita bodoh, minimal anak jangan ikut bodoh. Masukin pesantren. Gak ada ustadz yang miskin, kalau pun ada, itu karena belum kaya,” celetuknya membuat hadirin tergelak, tapi tersadar juga bahwa kaya itu tak selalu soal saldo.
Kiai kemudian bercerita lirih, tentang nikmat punya anak yang beragam: ada yang dokter, ada kepala desa, ada ustadz. “Pas sakaratul maut, dokter bisa bantu medis, kades bisa ngurus administrasi, tapi ustadz yang paling penting, dia yang talqin kita, agar bisa pulang dengan kalimat Laa ilaaha illallah,” katanya.
Suasana kembali riuh, saat Kiai melantunkan lagu pengingat : “Usia makin berkurang, dosa makin bertambah, waktu habis percuma. Siang cari harta, malam menghitungnya. Akhirat dilupakan,” ucapnya, seperti menampar lembut tapi dalam.
Dan untuk para ibu, nasihatnya sederhana tapi menggetarkan: “Coba sekali-kali sholat berjamaah di rumah. Sediakan mihrob kecil. Setelah salam, bersimpuhlah, minta maaf pada suami. Lihat bagaimana Allah turunkan kelembutan di rumah itu,” himbaunya.
Beberapa ibu terlihat menyeka mata. Mungkin teringat kata yang belum sempat diucap, atau maaf yang belum sempat diminta.
Acara ditutup pukul 11.30 dengan doa oleh Riefky Pranata, anggota DPRD Kabupaten Bogor dari Fraksi Gerindra — menandai akhir majelis, tapi mudah-mudahan bukan akhir semangat untuk memperbaiki diri.
Karena sebagaimana dikatakan Kiai Syahrul, “Kematian gak pakai pemberitahuan. Jadi siap-siaplah, tapi dengan cara yang bahagia”. (DidiS)