Delik28 – Ada yang menarik akhir pekan ini di Gang Balai Desa, Tajur, Kota Bogor. Tepatnya di samping SD Tajur 2, tempat biasanya anak-anak sekolah berbaris hormat bendera, kini giliran para calon paralegal akan berbaris menuntut ilmu.
LBH Pendekar, di bawah komando Hendra Sudrajat, S.H., menggelar pendidikan dan pelatihan paralegal pada Sabtu dan Ahad, 20–21 Desember 2025. Lokasinya sederhana, tapi semangatnya besar, bahkan mungkin lebih besar dari gedung DPRD di hari sidang kosong.
Pelatihan dua hari ini disebut sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas para pembela hak yang selama ini bekerja di akar rumput. Ya, di akar rumput, tempat hukum kerap kali diterjemahkan bebas sambil berharap tak terlalu banyak tersangkut pasal. Dengan menghadirkan para narasumber calibre nasional, LBH Pendekar tampaknya ingin menata ulang peta peran paralegal agar tak lagi dipandang sebelah mata, apalagi sebelah telinga.
Yang paling menyita perhatian tentu hadirnya pengacara nasional, Teuku Nasrullah, S.H., M.H. Nama yang sudah wara-wiri di layar berita, ruang sidang besar, sampai ruang opini publik. Kini, ia akan turun gunung membimbing para calon paralegal yang jumlahnya sekitar 50 orang. Bagi peserta, ini ibarat datang ke konser musik lalu mendapati penyanyinya bukan biduan lokal, tapi Coldplay.
Hendra mengajak seluruh anggota LBH Pendekar hadir tanpa alasan mangkir, karena momen belajar semewah ini tak datang setiap minggu. Ia berharap kehadiran Teuku Nasrullah akan mengalirkan percikan profesionalisme kepada anggota yang mungkin selama ini lebih sering berkutat pada laporan kasus yang ujungnya terhenti di tumpukan berkas kusut.
Selain itu, LBH Pendekar juga mengundang narasumber dari berbagai instansi hukum: Kapolres Bogor, Kejaksaan Tinggi, Kemenkumham Kota Bogor, hingga para akademisi dan praktisi hukum. Kombinasi yang mungkin belum pernah terjadi di gang sempit sebelumnya, kecuali saat kampanye pilkada. Jika semua hadir, pelatihan ini bukan hanya bergizi tinggi, tapi juga kaya rasa administratif.
Materi yang disajikan pun bukan kelas ringan. Peserta akan diajak menelusuri restorative justice, keparalegalan, pemetaan kasus, hukum perdata dan pidana, strategi advokasi, hingga dinamika sistem hukum Indonesia. Bahkan tersedia simulasi penanganan perkara, momen ketika peserta diharapkan siap beradu argumen, bukan sekadar beradu kuota internet.
Tentu saja, tujuan utamanya mulia: meningkatkan kemampuan paralegal dalam mendampingi klien dan menangani perkara hukum. LBH Pendekar ingin anggotanya naik kelas, dari sekadar pemberi dukungan moral menjadi pemberi solusi legal yang berakar pada keilmuan. Ilmu tanpa tindakan hanyalah teori; tindakan tanpa ilmu hanyalah bencana hukum.
Bukan rahasia, profesi paralegal sering dipandang enteng dalam rantai penegakan hukum. Padahal mereka adalah garda depan bagi masyarakat miskin kasus, tempat pertama mengadu sebelum kasus beranak-pinak di ruang mediasi atau pengadilan. Pelatihan seperti ini bisa menjadi pintu masuk perubahan struktur pemahaman bahwa paralegal bukan sekadar figuran, tapi bagian dari napas keadilan sosial.
Peserta yang lolos pelatihan juga akan mendapatkan sertifikasi resmi dan identitas paralegal. Bukan sekadar kartu plastik dengan foto kusam, tapi tanda bahwa mereka telah mengantongi kepercayaan publik dan ilmu yang teruji. Sertifikat ini bisa jadi tiket melangkah lebih percaya diri dalam arena hukum yang kadang lebih keras daripada kopdar klub Kepala Desa.
Selama pelatihan, peserta dijanjikan fasilitas pendukung, meski tak disebutkan apakah termasuk kopi tubruk tiga kali sehari. Yang pasti, lokasi di Tajur Timur akan menjadi titik panas belajar dalam dua hari ke depan. Lalu lalang warga kampung Tajur pun diperkirakan akan bercampur dengan semangat belajar yang mungkin menyenggol ruang privat ruang kelas SD di sampingnya.
Secara sosial, kehadiran berbagai unsur hukum dalam satu ruang pelatihan menandai adanya kesadaran kolektif bahwa hukum tak bisa berjalan jika hanya diurus oleh segelintir orang bersetelan jas licin. Peradilan dan pendampingan hukum sejatinya kerja gotong royong, walaupun kadang juga jadi ajang rebutan pengaruh dan mikrofon.
Dari perspektif Pendekar, pelatihan ini bisa ditafsirkan sebagai upaya menjahit kembali kain hukum yang kadang sobek di tengah jalan. Mungkin gang sempit Tajur adalah tempat tepat untuk memulai: sederhana, dekat masyarakat, tak terlalu berisik oleh pretensi dan gengsi. Karena sejatinya, keadilan tak membutuhkan gedung megah, hanya butuh orang-orang yang tau arah.
Pada ujungnya, diklat paralegal LBH Pendekar akhir pekan ini adalah kabar baik bagi mereka yang percaya bahwa hukum harus bekerja untuk orang banyak. Dan jika nantinya ada peserta yang pulang sambil berkata “saya merasa lebih pintar hari ini,” maka pelatihan ini boleh dibilang sukses bahkan sebelum hukum berubah, para pelakunya dahulu yang berbenah. Selamat belajar, para pendekar hukum. Keadilan menunggu kalian di ujung gang.
(DidiS)