Delik28 /Editorial – Lonjakan harga emas sejak 1,6 juta rupiah per gram pada Januari 2025 terus lari meroket hingga 2,6 juta rupiah pada akhir 2025, bukan sekadar fenomena pasar. Ia adalah vonis diam-diam terhadap sistem ekonomi global yang selama ini dielu-elukan sebagai stabil, modern, dan rasional.
Ketika emas meroket tanpa rem, sesungguhnya dunia sedang memberi satu pesan gamblang: kepercayaan terhadap sistem keuangan global sedang runtuh. Emas tidak naik karena dunia sehat. Ia naik justru karena dunia sedang sakit.
Sepanjang 2025, publik disuguhi narasi optimisme: inflasi terkendali, pertumbuhan terjaga, dan pasar diklaim adaptif. Namun di balik jargon-jargon teknokratis itu, investor besar dan bank sentral dunia melakukan langkah yang berlawanan.
Mereka meninggalkan aset kertas, mengurangi dolar, dan diam-diam memborong emas. Jika sistem ini benar-benar kuat, mengapa para penjaganya sendiri bersiap keluar darurat Kenaikan emas adalah bentuk mosi tidak percaya terhadap mata uang fiat yang dicetak tanpa henti.
Negara-negara besar menumpuk utang, bank sentral bermain suku bunga seperti tuas darurat, sementara uang terus diproduksi tanpa penopang nilai riil. Dalam sistem seperti ini, emas berdiri sebagai pembangkang: ia tidak bisa dicetak, tidak bisa dimanipulasi lewat rapat moneter, dan tidak tunduk pada pidato pejabat keuangan.
Lebih mencemaskan lagi, lonjakan emas kali ini bukan didorong kepanikan sesaat, melainkan akumulasi ketakutan jangka panjang. Konflik geopolitik dibiarkan berlarut, perang menjadi komoditas politik, dan stabilitas global dipertaruhkan demi kepentingan segelintir elit. Pasar membaca semua itu dengan jujur, lalu mengambil sikap: berlindung.
Di sinilah emas berfungsi sebagai “arsip kebenaran” ekonomi. Ia mencatat bahwa dunia sedang berada di ambang krisis kepercayaan. Ketika bank sentral, yang seharusnya menjadi penyangga stabilitas, ikut menjadi pembeli agresif emas, maka jelas ada yang tidak beres di ruang kendali global.
Indonesia tidak kebal. Kenaikan harga emas di dalam negeri bukan hanya cermin pasar global, tetapi juga refleksi lemahnya fondasi ekonomi domestik dalam menghadapi guncangan eksternal. Rupiah yang rentan memperparah lonjakan harga, membuat emas semakin mahal dan semakin jauh dari jangkauan rakyat. Ironisnya, di saat ketidakpastian meningkat, instrumen perlindungan nilai justru menjadi barang mewah.
Yang lebih problematis, lonjakan emas juga membuka ruang spekulasi liar. Ketika sistem gagal melindungi nilai uang, pasar menyerahkan permainan kepada pemilik modal besar. Rakyat kecil datang terlambat, membeli di harga tinggi, sementara pemain lama sudah mengamankan keuntungan. Dalam sistem global hari ini, krisis bukan musibah, ia adalah ladang bisnis.
Editorial ini menegaskan satu hal: emas tidak sedang berkhianat pada sistem, justru sistemlah yang mengkhianati kepercayaan publik. Selama ekonomi global dibangun di atas utang, manipulasi moneter, dan konflik yang dipelihara, emas akan terus naik, bukan sebagai pemenang, tetapi sebagai saksi bisu kegagalan.
Jika hingga akhir Desember 2025 ini harga emas terus meroket, maka itu bukan soal grafik. Itu adalah alarm keras bahwa dunia sedang bergerak tanpa kompas moral dan ekonomi. Dan seperti biasa, yang paling dulu merasakan dampaknya bukan mereka yang mencetak kebijakan, melainkan mereka yang hanya ingin menyimpan nilai hidupnya agar tidak tergerus zaman.
(Didi Sukardi)