Delik28 — Kesadaran masyarakat Kabupaten Bogor terhadap pentingnya kesehatan mental kini semakin baik. Setiap hari, layanan psikologi di RSUD Kabupaten Bogor selalu menerima pasien baru yang datang untuk berkonsultasi, baik dari kalangan anak-anak, remaja, maupun dewasa. “Setiap hari selalu ada pasien yang datang, artinya kesadaran masyarakat sudah cukup baik,” ungkap Niko Puri Diyanti, M.Psi., Psikolog, saat ditemui di Poli Yankesrad Gedung Azalea, Rabu (12/11/2025).
Menurut Niko, keinginan seseorang untuk bercerita atau curhat sebenarnya menjadi tanda bahwa orang tersebut membutuhkan terapi psikologis. Pemerintah, katanya, perlu memperkuat langkah promotif dan preventif dalam bidang kesehatan mental agar masyarakat lebih cepat mendapatkan penanganan tanpa harus menunggu kondisinya memburuk.
“Psikolog bukan dokter dan bukan psikiater,” jelas Niko. Ia menegaskan bahwa tugas psikolog adalah membantu individu menemukan akar masalah dan mengembangkan kemampuan self-therapy, yaitu kemampuan menyembuhkan diri sendiri. “Tujuannya supaya mereka tidak bergantung pada psikolog. Kalau masih tergantung, berarti ada sistem yang salah,” tambahnya.
Meski begitu, layanan psikologi di rumah sakit pemerintah masih belum bisa diakses menggunakan BPJS Kesehatan. “Saat ini belum di-cover BPJS, jadi masih bayar mandiri,” ujarnya. Untuk sesi konsultasi, biaya awal dimulai dari Rp108.000, dan bisa meningkat tergantung durasi serta tingkat pendalaman saat konseling.
Niko mengakui bahwa faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama masalah psikologis di kalangan masyarakat Indonesia, terutama pada kelompok menengah ke bawah. “Kalau rumah tangga, biasanya persoalan komunikasi, ekonomi, dan perselingkuhan. Sedangkan pada anak-anak, banyak disebabkan oleh bullying,” jelasnya.
Ia menambahkan, anak-anak korban bullying sering kali baru menyadari dampak psikologis yang mereka alami ketika sudah dewasa. “Biasanya peristiwa itu terjadi saat SD atau SMP, tapi baru disadari di usia 20-an. Trauma itu bisa bertahan lama,” kata Niko. Menurutnya, generasi sekarang tampak lebih rentan secara emosional karena kurangnya daya tahan (resiliensi) dalam menghadapi tekanan sosial.
Selain kasus bullying, sejumlah pasien datang dengan gangguan bawaan seperti ADHD dan autisme (ASD). Sedangkan pada remaja dan dewasa muda, fenomena self-harm atau menyakiti diri sendiri cukup sering ditemukan. “Kebanyakan merasa dengan menyakiti diri, dosanya sudah tertebus. Mereka ini sebenarnya sedang depresi,” ungkapnya.
Untuk pasien tertentu, seperti anak-anak, lansia, atau penderita depresi berat, Niko juga melakukan home visit atau layanan kunjungan rumah. “Tapi kalau mereka masih bisa datang ke rumah sakit, saya minta datang langsung. Home care hanya untuk yang betul-betul butuh,” pungkasnya.
Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa meski kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental semakin meningkat, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah, terutama terkait akses layanan psikologi yang terjangkau dan merata bagi semua kalangan. (Didi Sukardi)