Delik28 – Mengunjungi sekolah di luar negeri menjadi pengalaman berharga sekaligus menyenangkan bagi para siswa. Dengan melihat secara langsung sistem pendidikan di negara lain, siswa Indonesia dapat menambah wawasan mengenai dunia pendidikan, budaya akademik, serta kehidupan sosial masyarakat internasional. Pengalaman tersebut juga mengajarkan pentingnya keterbukaan terhadap perbedaan dan memperluas pandangan terhadap dunia di luar lingkungan tempat tinggalnya.
Kesempatan istimewa itu dirasakan oleh Rasya Alteza Ghandi, siswa kelas IV SDN Pangarakan 02, Desa Srogol, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Rasya berkesempatan mengikuti wisata edukasi ke Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH), Belanda.
SIDH merupakan satu-satunya institusi pendidikan Indonesia yang berada di Benua Eropa. Berlokasi di Rijksstraatweg 679, 2245 CB Wassenaar, Den Haag, sekolah tersebut menerapkan Kurikulum Nasional Indonesia yang dipadukan dengan muatan internasional.
Rasya berangkat ke Negeri Kincir Angin bersama orang tuanya dalam program studi overseas secara mandiri yang berlangsung pada 28 hingga 30 Mei 2026. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi Rasya untuk merasakan suasana belajar di luar negeri sekaligus memperluas pengalaman akademik dan budaya.
Orang tua Rasya, Imbris Ghandi, menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke SIDH kepada Delik.
“Sesampainya di sana, saya dan Rasya bertemu dengan pihak KBRI, kepala sekolah, guru-guru, serta para siswa yang saat itu sedang melakukan syuting untuk agenda Hari Pendidikan Nasional,” ujar Imbris.
Menurutnya, suasana pembelajaran di SIDH sangat menarik. Para siswa diberikan kebebasan untuk menentukan proyek pembelajaran sesuai minat masing-masing.
“Kami sempat bergabung dalam satu ruangan saat guru menjelaskan aktivitas hari itu. Selain berbagi cerita tentang kegiatan akhir pekan dan belajar perkalian, para siswa juga belajar secara mandiri berdasarkan proyek yang mereka pilih. Ada yang menulis, menggambar, maupun belajar melalui internet. Ketika menemui kesulitan, mereka dapat langsung berkonsultasi kepada guru,” jelasnya.
Setiap siswa dituntut bertanggung jawab terhadap proyek yang dipilih. Mereka memiliki buku perencanaan atau action plan yang berisi target kegiatan, jadwal pelaksanaan, hingga batas waktu penyelesaian. Melalui sistem tersebut, siswa belajar mengatur waktu sekaligus bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.
Usai mengunjungi SIDH, Rasya dan keluarganya melanjutkan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag. Mereka juga berkesempatan mengunjungi sejumlah kota dan destinasi menarik di Belanda, seperti Amsterdam, Utrecht, dan Leiden.
Selain itu, Rasya juga mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah, di antaranya Istana Perdamaian (Vredespaleis) di Den Haag yang menjadi salah satu simbol perdamaian dunia serta kawasan Mahkamah Internasional, tempat berbagai sengketa antarnegara disidangkan.
Imbris mengaku banyak manfaat yang diperoleh putranya selama mengikuti kegiatan tersebut.
“Banyak pelajaran yang didapat Rasya. Kemampuan bahasa Inggrisnya semakin terlatih, bahkan ia mulai mengenal dan menghafal beberapa kosakata dalam bahasa Belanda. Selain itu, Rasya juga mendapatkan banyak teman baru di sana,” tuturnya.
Selama berada di Belanda, Rasya dan keluarganya mendapat sambutan hangat dari KBRI Den Haag. Mereka bahkan difasilitasi untuk tinggal di Wisma KBRI selama masa kunjungan.
“Kami diterima dengan sangat baik. Bahkan pihak KBRI telah menyiapkan berbagai kebutuhan, termasuk persediaan makanan selama kami berada di Belanda,” tambah Imbris.
Sebagaimana diketahui, Indonesia dan Belanda memiliki hubungan sejarah dan budaya yang cukup erat. Melalui kunjungan edukatif seperti ini, generasi muda dapat memahami persamaan dan perbedaan yang ada di kedua negara. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat rasa persahabatan, meningkatkan pemahaman lintas budaya, serta menjadi jembatan bagi kerja sama yang lebih baik antara Indonesia dan Belanda di masa mendatang. (Baim)