Delik28 – Sebagai daerah urban yang makin padat di Desa Cilebut Timur mencapai sekitar 16 juta jiwa dan Cilebut Barat 36 juta jiwa, dengan hegemoni penduduk Cilebut yang tergolong rawan sosial kesehatan, maka pihak Puskesmas Cilebut merasa wajib menganjurkan calon pengantin (Catin) untuk melakukan MCU (medical check up -Red) .
Dokter Hilda selaku Kepala Puskesmas Cilebut dalam wawancara media ini di kantornya mengklem, Cilebut tidak bisa disamakan dengan wilayah desa atau kecamatan lain, karena Cilebut merupakan daerah urban dengan masyarakatnya yang hegemoni, “Banyak pendatang yang tinggal sementara dan menetap yang berasal dari metropolitan dengan budaya yang mereka bawa akan mempengaruhi warga Cilebut dengan relatif kurang baik,” ungkap drg Hilda ditemui di kantornya, Jumat (7/2).
“Bayangin aja pak, Januari 2025 kemarin kita menemukan 2 kasus orang warga terjangkit civilis. Ini kan beban moril bagi kami terutama bagi saya selaku Kepala Puskesmas, sementara orang lain mungkin tidak akan memikirkannya. Di lain pihak saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya memerangi stunting. Sehingga saya selaku penanggung jawab kesehatan wilayah ini, tetap mengajak, menganjurkan dan memohon kepada para orang tua yang hendak menikahkan anaknya agar mengarahkan anaknya untuk memeriksakan kesehatan anak dan calon menantunya ke Puskesmas, toh jika ada masalah kesehatannya maka di Puskesmas akan diberikan solusi dan bimbingan konselling melalui wawancara,” ungkap drg Hilda memohon.
drg Hilda juga menyebutkan, hubungan intim dari kedua pengantin yang subur namun salah satunya sedang menderita animea juga dapat menghasilkan anak yang stunting. Untuk hal ini pula, dia berharap agar masyarakat jangan abai dengan hal seperti animea.
“Demikian juga dengan HB dan gula darah, hepatitis B, HIV, dan ini semua kami lakukan sudah sesuai dengan amanat dari Kementrian Kesehatan RI yang mengarah pada medical check up dan biayanya tidak dicover oleh BPJS. Selain medical check-upnya silahkan masih bisa dicover oleh BPJS. Murah kok jika dibanding MCU diluar Puskesmas jauh lebih murah di Puskesmas. Menjadi lebih murah lagi karena manfaatnya yang sangat besar demi kelangsungan membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah,” terang drg Hilda.
Dikatakan dokter Hilda, masyarakat jangan abai karena beberapa penyakit yang dapat menular satu sama lain melalui hubungan intim seperti civilis, HIV, hepatitis B. Ini kan harus diantisipaai karena sangat berbahaya bagi pasangan lainnya apabila tidak diketahui dan tidak diobati.
“Percayalah, pada dasarnya Pemerintah sayang kepada masyarakat, dengan membimbing masyarakat secara aturan agar masyarakat mengetahui bahaya dan akibatnya. Karena jika tidak mengetahui adanya ancaman bahaya medis, kan mereka santai aja, tidak akan ada upaya antisipasi dan upaya berobat lebih lanjut,” imbuhnya.
“Ayolah, media juga harus bantu kami agar masyarakat lebih cerdas untuk mengetahui kesehatannya, jangan asal nikah tanpa mengetahui kesehatan calon pasangannya. Dan kalau boleh saya memohon kepada semua pihak termasuk Pemerintah Desa dan alim ulama, agar ikut membantu kami mensosialisasikan perlunya menghindari pergaulan bebas pada anak dan remaja serta masyarakat pada umumnya,” terang drg Hilda.
Hilda juga memohon agar jangan menyerahkan masalah kesehatan hanya pada Puskesmas, karena pihaknya juga memiliki keterbatasan, hanya dengan 25 sumber daya manusia. Dikatakannya, terutama bagian analis di laboratorium hanya ada 1 orang, sehingga jadwalnya harus diatur. Bahkan drg Hilda mengaku masih harus turun tangan melayani fasien gigi sesuai keahliannya. (DidiS).