Delik28 – Kekuasaan yang matang tidak takut diuji. Ia bersedia dipertanyakan, dikritik, dan diperdebatkan secara terbuka. Namun, ketika kekuasaan mulai menutup ruang dialektika—menghindari kritik, menyingkirkan perbedaan pandangan, dan memaksakan narasi tunggal—maka bahaya sesungguhnya sedang tumbuh secara perlahan.
Pada titik inilah, jurnalis dan masyarakat tidak lagi punya pilihan selain berpikir kritis.
Dialektika yang Ditolak Kekuasaan
Dialektika adalah proses adu gagasan untuk mencari kebenaran melalui pertentangan pandangan dan fakta. Ia menuntut keterbukaan data, keberanian menjawab kontradiksi, dan kesediaan mengoreksi diri. Bagi kekuasaan yang sehat, dialektika adalah mekanisme kontrol. Namun bagi kekuasaan yang hanya ingin dipatuhi, dialektika dianggap gangguan.
Ketika pertanyaan kritis dicurigai, kritik dianggap ancaman, dan perbedaan pendapat dilabeli sebagai sikap tidak loyal, maka yang sedang dibangun bukan ketertiban, melainkan kepatuhan.
Jurnalis di Persimpangan Jalan
Dalam situasi kekuasaan yang anti-dialektika, jurnalis berada di posisi paling menentukan. Tanpa sikap kritis, media akan berubah menjadi pengeras suara resmi. Pernyataan pejabat dikutip tanpa diuji, data disajikan tanpa konteks, dan kebijakan dipuji tanpa pembacaan dampak.
Jurnalisme yang kehilangan dialektika bukan hanya gagal menjalankan fungsi kontrol, tetapi ikut melanggengkan ketimpangan. Karena itu, berpikir kritis bukan pilihan etis semata, melainkan kewajiban profesional.
Masyarakat yang Dipaksa Diam
Kekuasaan yang menolak dialektika membutuhkan masyarakat yang pasif. Rakyat cukup disuruh percaya, bukan memahami. Cukup diminta mendukung, bukan menilai. Inilah pola lama feodalisme yang diwariskan dalam wajah modern.
Tanpa kebiasaan berpikir kritis, masyarakat mudah menerima ketidakadilan sebagai hal wajar, kegagalan sebagai takdir, dan kebijakan keliru sebagai keharusan. Dialektika yang mati akan melahirkan warga yang jinak, bukan warga yang berdaulat.
Berpikir Kritis sebagai Bentuk Perlawanan
Ketika ruang dialektika ditutup dari atas, berpikir kritis menjadi bentuk perlawanan paling rasional. Ia tidak berisik, tetapi tajam. Tidak emosional, tetapi membongkar. Pertanyaan sederhana yang terus diajukan sering kali lebih mengganggu kekuasaan daripada seribu slogan perlawanan.
Sejarah menunjukkan, kekuasaan jarang runtuh oleh makian, tetapi sering goyah oleh pertanyaan yang tak mampu ia jawab.
Saat kekuasaan tak mau berdialektika, jurnalis dan masyarakat tidak boleh ikut diam. Justru di situlah akal sehat harus bekerja lebih keras. Dialektika adalah nafas demokrasi; berpikir kritis adalah pertahanan terakhirnya.
Karena kekuasaan tanpa dialektika akan cenderung sewenang-wenang, dan masyarakat tanpa pikiran kritis hanya akan menjadi penonton dari nasibnya sendiri.
(Tan Bagindo Journal)