Delik28 – Peresmian Pasar Petani Garuda oleh Bupati Bogor Rudy Susmanto pada Jumat (30/1/2027) menjadi momentum emosional bagi para petani. Banyak dari mereka yang sebelumnya berjualan berpindah-pindah karena penertiban kini mendapatkan tempat yang tertata, legal, dan berada dalam kendali pemerintah.
“Dulu mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain. Digusur, pindah lagi. Di sini bukan digusur, tapi ditata dan dirapikan. Mereka punya harapan untuk memutar ekonomi,” ujar Bupati Rudy.
Pasar ini memang belum sepenuhnya selesai. Baru sekitar 50 persen infrastruktur yang dibangun. Namun pemerintah memutuskan untuk mengoperasionalkannya lebih awal agar para petani mendapat ruang usaha yang layak.
Para petani hanya dikenakan biaya administrasi sekitar Rp100.000. Angka itu ditetapkan bukan untuk komersialisasi, melainkan untuk mencegah praktik jual beli lapak dan memastikan seluruh area tetap milik Pemerintah Kabupaten Bogor.
“Kita ingin lapak ini tidak diperjualbelikan. Siapa pun yang menempati tetap berada dalam pengawasan pemerintah,” jelas Rudy.
Para petani tanaman buah, tanaman hias, hingga peternak ikan konsumsi dan ikan hias kini memiliki lokasi yang lebih pasti untuk berjualan di bawah payung hukum yang jelas.
Rudy juga menyampaikan bahwa nantinya seluruh kebutuhan pemerintah, seperti pembelian tanaman untuk taman dan pemeliharaan ruang publik, akan diprioritaskan kepada petani lokal. Dengan begitu, perputaran ekonomi kembali ke masyarakat Kabupaten Bogor sendiri.
Ke depan, pasar ini akan memiliki fasilitas edukasi, hutan bambu, titik wisata kecil, serta sarana pendukung lainnya yang masih dalam tahap pembangunan.
“Harapan masyarakat besar. Kita penuhi dengan membangun tempat yang nyaman dan memberi kepastian bagi petani,” tutup Bupati.
(Erik/DidiS)