Delik28 /Feature – Sebentar lagi seluruh umat Islam akan melaksanakan ibadah Puasa selama satu bulan penuh yaitu bulan Ramadhan. Tapi sudah tahukah kita, puasa merupakan salah satu ibadah tertua dalam sejarah umat beragama. Ia bukan hanya ritual fisik, tetapi latihan spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi, hingga disempurnakan dalam Islam. Berikut penelusuran lengkapnya beserta dalil-dalil pendukung.
1. Puasa Sudah Ada Sejak Umat Para Nabi Terdahulu
Islam menegaskan bahwa puasa bukan ibadah baru. Jauh sebelum syariat Nabi Muhammad ﷺ, umat para nabi terdahulu sudah menjalankan puasa sebagai bentuk penyucian diri.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan dua hal penting: Puasa adalah ibadah warisan para nabi. Tujuan akhirnya adalah pembentukan pribadi bertakwa (muttaqin).
2. Puasa dalam Syariat Nabi Musa dan Nabi Isa
a. Puasa Umat Nabi Musa (Yahudi)
Tradisi Yahudi mengenal puasa Yom Kippur, hari penebusan dosa. Mereka menahan makan, minum, dan aktivitas tertentu dari matahari terbenam hingga keesokan harinya.
Walau tidak disebut langsung dalam Al-Qur’an, Nabi Musa disebut berpuasa saat bermunajat:
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberi Taurat) selama tiga puluh malam dan Kami sempurnakan dengan sepuluh malam…” (QS. Al-A’raf: 142)
Para mufasir menjelaskan: Musa a.s. berpuasa 40 hari dalam rangka menerima wahyu.
b. Puasa Umat Nabi Isa (Kristen)
Umat Nasrani memiliki tradisi puasa Lent (40 hari) sebagai bentuk keteguhan iman dan latihan spiritual. Injil menyebutkan puasa Nabi Isa selama 40 hari di padang gurun.
Meski tidak menjadi dalil syariat Islam, ini menjadi penguat bahwa puasa adalah tradisi lintas agama.
3. Puasa pada Masa Awal Islam
Sebelum puasa Ramadan diwajibkan, terdapat tahap-tahap syariat yang ditempuh umat Islam.
a. Puasa Asyura
Pada awal kedatangan Nabi ﷺ di Madinah, kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram). Nabi ﷺ pun memerintahkan kaum Muslim untuk berpuasa hari itu.
“Puasa hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
b. Tahapan Kewajiban Puasa (Sebelum Disempurnakan)
Pada fase pertama, aturan puasa cukup berat. Bila seseorang tertidur setelah berbuka, ia tidak boleh makan lagi hingga malam berikutnya.
Hal ini disebut dalam riwayat mengenai Umar bin Khattab yang kesulitan menahan aturan tersebut, hingga turunlah keringanan.
4. Disyariatkannya Puasa Ramadan (Tahun 2 Hijriah)
Puasa Ramadan diresmikan sebagai kewajiban pada tahun 2 Hijriah, setelah umat Islam berhijrah ke Madinah.
“(Beberapa hari tertentu) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an…” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menjadi dasar bahwa puasa Ramadan memiliki kedudukan agung karena terkait langsung dengan turunnya wahyu.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara… (salah satunya) puasa di bulan Ramadan.” (HR. Bukhari & Muslim).
Dengan turunnya ayat dan hadis ini, puasa Ramadan resmi menjadi rukun Islam.
5. Makna Puasa Menurut Ulama Tasawuf
Para ulama tasawuf memandang bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga:
a. Puasa Lidah
Menjaga dari ghibah, fitnah, dan ucapan menyakitkan.
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta… maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
b. Puasa Hati
Mengosongkan hati dari iri, dendam, dan penyakit batin.
c. Puasa Pikiran
Menjaga dari prasangka buruk dan khayalan negatif.
d. Puasa Jiwa (Nafs)
Ini yang paling dalam: Mengendalikan hawa nafsu agar tunduk kepada Allah, sehingga seorang salik semakin dekat dalam perjalanan spiritualnya.
Maka pantas jika para sufi menyebut puasa sebagai mi’raj-nya ruhani.
6. Kesimpulan: Puasa adalah Ibadah Sepanjang Zaman
Puasa telah ada sejak umat para nabi terdahulu
Tradisi ini berkembang pada syariat Nabi Musa dan Nabi Isa.
Pada awal Islam, puasa dijalankan secara bertahap.
Puasa Ramadan diwajibkan pada tahun 2 Hijriah melalui ayat Al-Baqarah.
Ulama tasawuf memaknai puasa sebagai latihan spiritual total, bukan hanya fisik, tapi menyucikan batin.
Puasa adalah ibadah yang merawat manusia lahir dan batin, membentuk pribadi bertakwa, dan mendekatkan kita kepada Allah.
(DidiS, Berbagai Sumber)