Delik28 – SPPG (Satuan Pelayanan Pemulihan Gizi) di Desa Cisujen, Kecamatan Takokak, bukan sekadar dapur distribusi makanan. Ia lebih menyerupai ruang kerja sunyi tempat gizi, disiplin, dan tanggung jawab diracik menjadi satu porsi harapan.
Unit ini bergerak dengan fokus yang jelas: menyediakan makanan sehat dan bergizi, memastikan distribusi tepat sasaran terutama bagi anak-anak sekolah, serta menjalankan pembinaan keamanan pangan bersama Puskesmas Takokak.
Dari sana, lahir sesuatu yang lebih dari sekadar kenyang. Kepercayaan mulai tumbuh, perlahan tapi nyata.
Nama SPPG Cisujen kini jadi buah bibir bahan perbincangan, kerap disebut-sebut, bukan Karena Sensasi, bukan karena polemik, melainkan karena konsistensinya menjaga kualitas.
Menu yang disajikan tidak dibuat seadanya: Porsi diperhatikan, komposisi dijaga. Ada standar yang dipegang, bukan sekadar rutinitas yang dijalankan.
Salah satu kepala sekolah dasar bahkan mengungkapkan hal yang cukup menarik. Ia menyebut, ada orang tua murid yang berharap anak-anak mereka bisa dialihkan ke layanan SPPG Cisujen.
Namun, respons pihak sekolah tetap berpijak pada prinsip. Keputusan semacam itu tidak bisa diambil sepihak. Harus melalui musyawarah bersama komite dan orang tua, serta diawali dengan komitmen yang jelas dari pihak SPPG terkait kualitas menu dan porsi.
Di titik ini, terlihat bahwa kepercayaan publik tidak dibangun dari klaim sepihak, melainkan dari pengalaman yang dirasakan langsung.
Di balik operasional lapangan, ada peran penting ASLAP (Asisten Lapangan). Salah satunya, Abdul Manan, yang menjaga agar kualitas dan kuantitas tetap berada di jalur yang seimbang.
Ia menjelaskan dengan lugas: jika dalam satu hari nilai menu berada di bawah Rp10.000, maka selisihnya akan dikompensasi pada hari berikutnya. “Sebaliknya, ada hari-hari tertentu ketika menu menggunakan bahan seperti daging sapi, yang secara kalkulasi bisa mencapai sekitar Rp12.000 per porsi,” ungkapnya Jumat (1/5/2026).
Pola ini bukan kekurangan, melainkan strategi. Sebuah cara untuk menjaga keseimbangan dalam jangka waktu, bukan sekadar memenuhi angka harian.
Sering kali, yang terlihat hanya isi piring. Padahal di baliknya ada perhitungan bahan, harga, dan gramasi yang dikelola dengan cermat.
SPPG Cisujen menunjukkan satu hal sederhana namun penting: pelayanan yang baik tidak selalu harus terlihat besar. Cukup dijalankan dengan konsisten, jujur, dan bertanggung jawab.
Dari dapur sederhana di Cisujen, lahir pelajaran bahwa kualitas bukan soal seberapa mahal yang disajikan, tapi seberapa sungguh-sungguh ia dijaga. (Dongke, Editor: DidiS)