Delik28 – Gedung eks kewadanan di Desa Kadugede, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, yang memiliki nilai historis, mendapat perhatian khusus dari Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar untuk direvitalisasi menjadi Bale Budaya.
Peninjauan tersebut dilakukan bersama Wakil Bupati Tuti Andriani, Sekda, serta jajaran kepala OPD dalam rangkaian kegiatan Gerakan Jumat Bersih, Sehat, Peduli, dan Damai di Alun-alun Desa Kadugede, Jumat (27/03/2026).
Bupati Kuningan mengatakan, revitalisasi gedung ini bertujuan menghadirkan ruang representatif bagi kegiatan seni dan budaya di Kabupaten Kuningan.
“Kuningan masih kekurangan ruang representatif untuk pagelaran seni dan budaya. Gedung ini sangat potensial dan akan kita tata tanpa menghilangkan nilai sejarahnya, sehingga menjadi pusat kebudayaan yang hidup,” ujarnya.
Ia menjelaskan, proses revitalisasi akan dilakukan secara bertahap dengan tetap menjaga keaslian bangunan sebagai bagian dari warisan sejarah. Kawasan di sekitar gedung juga akan ditata agar lebih tertib, nyaman, dan mendukung aktivitas wisata.
Pengembangan Bale Budaya ini akan diintegrasikan dengan program Nata Daya, yang mencakup penataan Alun-alun Desa Kadugede sebagai ruang publik sekaligus daya tarik wisata. Penataan meliputi pengelolaan pedagang, peningkatan estetika kawasan, serta penyediaan fasilitas pendukung.
Menurut Bupati, Desa Kadugede memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Letaknya strategis, didukung kondisi alam yang sejuk serta dekat dengan sejumlah destinasi wisata.
“Kadugede ini sangat prospektif. Ada Gunung Mayana, dekat dengan Waduk Darma, Curug Bangkong, hingga kawasan Darmaloka. Jika terintegrasi, wisatawan punya banyak pilihan dan tidak cukup hanya satu hari di Kuningan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kadugede, Maman Abdurohman, menyatakan dukungannya terhadap rencana revitalisasi tersebut. Ia berharap, pengembangan ini dapat menjadikan desanya lebih tertata sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat.
“Dengan dukungan pemerintah daerah, kami berharap Kadugede bisa berkembang menjadi kawasan cagar budaya yang representatif sekaligus destinasi edukasi dan wisata budaya,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan, gedung eks kewadanan tersebut dulunya merupakan kantor pemerintahan pada masa lampau, bahkan diperkirakan telah ada sejak era penjajahan Belanda.
Meski telah mengalami renovasi di beberapa bagian, seperti atap, struktur utama bangunan termasuk tiang-tiangnya masih dipertahankan sebagai bentuk pelestarian arsitektur lama.
Laporan: BUDI/AJH