Delik28 — Rasa syukur menjadi salah satu pesan yang disampaikan KH. Mad Budi, S.Ag., S.Pd.I., dalam khutbah Jumat di Masjid Jami Baitul Faizin, Jumat (4/9/2026). Jamaah diajak menyadari bahwa kesempatan untuk kembali berkumpul dan melaksanakan salat Jumat secara berjamaah merupakan rahmat dan nikmat Allah SWT yang patut disyukuri.
Dalam khutbahnya, KH. Mad Budi mengajak jamaah untuk tidak hanya mengejar keberhasilan duniawi, tetapi juga mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat. Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah tentang tujuh tanda orang yang memiliki karakter ahli surga. Tanda-tanda tersebut bukan sekadar ucapan, melainkan tercermin melalui sikap, perilaku, kesabaran, dan keistiqamahan seseorang dalam menjalani kehidupan.
Pertama, mampu memaafkan orang yang pernah menzaliminya. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi menunjukkan keluasan hati dan ketundukan kepada Allah SWT. Al-Qur’an mengajarkan bahwa orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain merupakan orang-orang yang mendapatkan kecintaan Allah.
Kedua, berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita. Sikap ini tentu tidak mudah dilakukan. Ketika seseorang disakiti, secara manusiawi muncul keinginan untuk membalas. Namun Islam mengajarkan agar keburukan tidak selalu dibalas dengan keburukan. Al-Qur’an memberikan pelajaran bahwa keburukan dapat dilawan dengan cara yang lebih baik, sehingga permusuhan dapat berubah menjadi kedekatan.
Ketiga, memberi kepada orang yang tidak pernah memberi kepada kita. Kebaikan sejati bukanlah transaksi yang mengharapkan balasan. Seorang mukmin diajarkan untuk berbagi karena Allah SWT, bukan semata-mata karena pernah menerima sesuatu dari orang lain. Memberi dengan ikhlas menjadi bentuk kepedulian sekaligus latihan membersihkan hati.
Keempat, apabila diberi maka ia bersyukur. Nikmat Allah SWT sangat luas dan tidak selalu berbentuk harta. Kesehatan, keluarga, kesempatan beribadah, pekerjaan, persahabatan, bahkan kesempatan untuk menjalani kehidupan merupakan nikmat yang sering kali terlupakan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa rasa syukur menjadi sebab bertambahnya nikmat dari Allah SWT.
Kelima, apabila diuji maka ia bersabar. Kehidupan tidak selamanya berjalan sesuai dengan keinginan manusia. Ada saatnya seseorang memperoleh kebahagiaan, tetapi ada pula masa ketika harus menghadapi kehilangan, kesulitan, kekecewaan maupun berbagai persoalan. Kesabaran bukan berarti menyerah, melainkan tetap teguh menjalankan kebaikan dan percaya kepada ketetapan Allah SWT.
Keenam, jika berbicara maka ia jujur. Kejujuran merupakan salah satu fondasi utama kehidupan seorang mukmin. Perkataan yang benar akan melahirkan kepercayaan, sedangkan kebohongan dapat merusak hubungan dan menimbulkan persoalan yang lebih besar. Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dan menyampaikan perkataan yang benar.
Ketujuh, mampu berjalan di tengah orang lain seperti berjalan di tengah orang-orang yang telah mati. Ungkapan ini menggambarkan seseorang yang tidak mudah terbawa oleh keadaan di sekelilingnya. Ia tetap istiqamah berada di jalan Allah SWT meskipun lingkungan berubah, godaan datang, atau banyak orang memilih jalan yang berbeda. Bukan berarti menjauhi manusia, melainkan tidak kehilangan prinsip dan keyakinan hanya karena mengikuti arus kehidupan.
KH. Mad Budi menekankan bahwa ketujuh pesan tersebut patut menjadi bahan introspeksi bagi setiap muslim. Menjadi manusia yang baik bukan hanya tentang banyaknya ibadah yang terlihat, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan sesama, menyikapi nikmat, menghadapi ujian, menjaga lisannya, serta mempertahankan keistiqamahan dalam kehidupan.
Khutbah Jumat tersebut menjadi renungan bersama bahwa kesempatan hidup yang diberikan Allah SWT seharusnya digunakan untuk terus memperbaiki diri. Semoga kita semua senantiasa berada dalam rahmat dan ridha Allah SWT, diberi kemampuan untuk memaafkan, berbuat baik, bersyukur, bersabar, berkata jujur, serta istiqamah di jalan-Nya hingga akhir hayat. (Erik/DidiS)