Delik28 – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh pelajar asal Kabupaten Bogor. Rasya Alteza Ghandi, yang akrab disapa Rasya, siswa kelas IV SDN Pangarakan 02, Desa Srogol, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, mendapat undangan istimewa untuk mengunjungi sebuah sekolah di Prancis dan menampilkan budaya asli Indonesia berupa Silat Minang dalam ajang Multiculturelle Day 2026.
Kegiatan yang digelar pada Jumat (22/5/2026) tersebut diikuti perwakilan dari 17 negara, di antaranya Prancis, Belgia, Argentina, Kanada, Kolombia, Indonesia, Korea Selatan, Vietnam, Jepang, Amerika Serikat, Peru, Mauritius, Republik Afrika Tengah, Kamerun, Burkina Faso, Pantai Gading, dan Rwanda.
Undangan tersebut menjadikan Rasya sebagai salah satu anak Indonesia yang memperoleh kesempatan langka untuk tampil di forum internasional sekaligus memperkenalkan budaya bangsa kepada dunia. Bahkan, ia disebut sebagai salah satu duta budaya Indonesia dalam kegiatan tersebut.
Di usianya yang masih sangat muda, nama Rasya sudah cukup dikenal di kalangan pesilat nasional maupun internasional. Sejak duduk di bangku kelas I SD, ia aktif mengikuti berbagai kejuaraan pencak silat di dalam maupun luar negeri.
Ayahanda Rasya, Imbris Ghandi yang akrab disapa Baim, mengatakan undangan ke Prancis tersebut merupakan buah dari prestasi yang diraih putranya dalam berbagai kompetisi internasional.
“Alhamdulillah, setelah meraih gelar Champion pada Australia International Silat Championship di Brisbane dan berhasil meraih medali emas, Rasya mendapat invitation untuk mengikuti Belgium International Championship di Belgia sekaligus kesempatan mengunjungi Prancis,” ujar Baim.
Rasya bersama ayahnya bertolak ke Eropa pada April 2026 dan mendapatkan pendampingan dari perwakilan Pemerintah Indonesia serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat.
Berbagai prestasi bergengsi telah berhasil dikoleksi Rasya. Di antaranya medali emas pada Malaysia Naga Sakti Championship di Selangor, dua kali juara berturut-turut dalam kejuaraan pencak silat di Perth dan Brisbane, Australia, hingga tergabung dalam Tim Nasional Pencak Silat Indonesia yang meraih prestasi pada Belgium International Championship.
Atas berbagai pencapaian tersebut, Rasya bahkan berkesempatan bertemu dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.
Menurut Baim, perjalanan menuju prestasi tersebut tidaklah instan. Selama kurang lebih empat tahun terakhir, sejak Rasya masih duduk di kelas I SD, ia terus mendampingi putranya mengikuti berbagai kompetisi hingga ke luar negeri.
“Sudah sekitar 15 negara yang dikunjungi untuk mengikuti perlombaan. Untuk medali internasional jumlahnya sekitar 12, sementara medali nasional lebih dari tiga,” katanya.
Perjalanan mengikuti kompetisi, lanjutnya, kerap penuh tantangan. Mulai dari perjalanan darat dari Bogor menuju Jakarta, transit panjang di bandara, hingga menghadapi keterlambatan penerbangan.
“Yang penting anak sehat dan mood-nya terjaga. Karena mengikuti lomba tingkat apa pun pasti melelahkan,” ujarnya.
Baim mengungkapkan bahwa sejak kecil Rasya memang memiliki ketertarikan besar terhadap bela diri, budaya, dan berbagai hal yang bersifat edukatif.
Berbeda dengan anak seusianya, Rasya senang belajar, berhitung, mengamati alam, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap berbagai hal di sekitarnya.
“Saya melihat dia memang senang belajar. Jadi tugas orang tua adalah mendampingi dan mendukung sesuai potensi yang dimilikinya,” tutur Baim.
Sebagai orang tua, ia berusaha menjaga keseimbangan antara belajar, latihan, dan waktu bermain agar anak tidak merasa tertekan.
Menurutnya, prestasi tidak boleh menghilangkan kebahagiaan masa kecil seorang anak. Karena itu, selain mendorong pencapaian akademik dan nonakademik, orang tua juga harus menjaga kondisi psikologis anak agar tetap bahagia dan menikmati proses yang dijalani.
“Anaknya memang senang belajar. Namun yang paling penting adalah menjaga mood-nya. Karena mengikuti lomba, baik nasional maupun internasional, membutuhkan perjuangan dan energi yang tidak sedikit. Menjaga keseimbangan antara belajar dan kebahagiaan anak menjadi faktor penting agar Rasya tetap konsisten berprestasi tanpa tekanan berlebih,” tandasnya.
Meski telah menorehkan berbagai prestasi dunia di bidang pencak silat, Rasya ternyata memiliki cita-cita yang sederhana namun mulia, yakni menjadi seorang diplomat.
“Sejak kecil cita-citanya ingin menjadi diplomat. Katanya supaya bisa menjalin hubungan internasional dan memperjuangkan kepentingan bangsa Indonesia di kancah global,” ujar Baim sambil tersenyum.
Setelah agenda di Prancis, Rasya juga dijadwalkan mengikuti kompetisi berikutnya di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Oktober 2026 serta World Pencak Silat Championship (WPSC), yang dikenal sebagai salah satu ajang pencak silat bergengsi tingkat internasional.
Baim berharap berbagai prestasi yang telah diraih putranya dapat memperoleh dukungan lebih besar dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sehingga semakin banyak atlet muda berbakat yang mampu mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia.
(Red)