Oleh: Imbris Ghandi
Delik28 /Feature Wisata – Ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Be careful with your dream, your dreams might come true.” Ungkapan tersebut terasa begitu nyata ketika untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Brussel, Belgia.
Perjalanan ke Eropa yang selama ini hanya menjadi impian akhirnya terwujud melalui sebuah momen membanggakan. Putra saya, Rasya Alteza Ghandi, yang sebelumnya berhasil meraih medali emas pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat di Brisbane, Australia, tahun 2025, kembali dipercaya mewakili Indonesia pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat 2026 yang diselenggarakan di Schoten, Belgia.
Sebagai orang tua yang mendampingi, saya tidak hanya menyaksikan perjuangan atlet muda Indonesia di pentas dunia, tetapi juga mendapatkan kesempatan berharga menjelajahi salah satu negara paling menarik di Eropa.

Perjalanan dimulai pada Kamis, 23 April 2026, menggunakan maskapai Qatar Airways. Setelah menempuh penerbangan panjang, kami tiba di Belgia, negara kecil yang dikenal sebagai pusat administrasi Uni Eropa sekaligus memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa.
Menyapa Brussel, Ibu Kota Kerajaan Belgia
Kesan pertama saat tiba di Brussel adalah perpaduan harmonis antara bangunan bersejarah dan kehidupan kota modern. Arsitektur bergaya Gotik dan Barok berdiri megah di tengah hiruk-pikuk kota yang kosmopolitan.
Aroma cokelat dan wafel khas Belgia seolah menyambut setiap wisatawan yang berjalan di sudut-sudut kota. Tak heran jika Brussel menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Salah satu tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah Grand Place atau Grote Markt, alun-alun bersejarah yang menjadi ikon Brussel. Kawasan ini diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan dianggap sebagai salah satu alun-alun terindah di dunia.
Di sekelilingnya berdiri bangunan-bangunan berornamen emas yang memukau, seperti Balai Kota Brussel, Maison du Roi atau King’s House, serta deretan bekas balai kongsi para pedagang. Keindahan arsitekturnya membuat setiap sudut Grand Place layak diabadikan dalam foto.
Menemui Ikon Legendaris Belgia
Perjalanan ke Brussel belum lengkap tanpa melihat langsung Manneken Pis, patung kecil yang menjadi simbol kota tersebut.
Patung setinggi sekitar 61 sentimeter itu menggambarkan seorang anak laki-laki yang sedang buang air kecil. Meski ukurannya jauh lebih kecil dari bayangan banyak orang, lokasi ini selalu dipadati wisatawan yang ingin berfoto.
Rasa penasaran membuat saya mencari tahu mengapa patung tersebut begitu terkenal. Ternyata terdapat ratusan legenda yang mengisahkan asal-usul Manneken Pis. Namun, terlepas dari berbagai cerita yang beredar, patung karya pematung Hieronymus Duquesnoy yang dibuat pada tahun 1618-1619 itu lebih dikenal sebagai simbol kebebasan, keterbukaan, dan keberagaman masyarakat Belgia.
Tak jauh dari Grand Place, kami juga mengunjungi patung Everard t’Serclaes yang terletak di Rue Charles Buls.
Menurut kepercayaan setempat, siapa pun yang menyentuh lengannya akan memperoleh keberuntungan, harapannya terkabul, dan suatu saat dapat kembali lagi ke Brussel. Meski banyak wisatawan ikut menggosok bagian patung tersebut, saya memilih cukup mengabadikannya lewat kamera sambil menikmati kisah menarik di balik legenda yang menyertainya.
Surga Kuliner yang Wajib Dicoba
Belgia juga dikenal sebagai surga kuliner.
Wafel Belgia menjadi makanan pertama yang wajib dicicipi. Brussels Waffle memiliki tekstur ringan dan renyah, sementara Liège Waffle lebih padat dengan cita rasa manis karamel yang khas.
Selain itu, Belgia merupakan rumah bagi cokelat-cokelat terbaik dunia. Berbagai toko cokelat legendaris seperti Neuhaus, Godiva, dan Leonidas menawarkan praline autentik yang menjadi favorit wisatawan.
Di tengah cuaca yang dingin, kentang goreng khas Belgia juga menjadi pilihan yang sempurna. Disajikan dengan beragam saus, makanan sederhana ini justru menjadi salah satu ikon kuliner negara tersebut.
Negara Kecil dengan Keragaman Budaya
Belgia memiliki tiga bahasa resmi, yaitu Belanda (Flemish), Prancis, dan Jerman. Di Brussel, sebagian besar papan petunjuk ditulis dalam bahasa Prancis dan Belanda.
Meski demikian, mayoritas masyarakat lokal juga mampu berbahasa Inggris sehingga wisatawan tidak mengalami kesulitan berkomunikasi.
Sistem transportasi publik di Belgia juga sangat baik. Kereta api menjadi pilihan utama untuk menjelajahi kota-kota indah seperti Bruges dan Ghent yang dapat ditempuh dengan mudah dari Brussel. Sementara itu, metro dan trem menjadi sarana transportasi yang praktis untuk berkeliling kota.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, musim semi antara April hingga Mei serta musim panas pada Juni hingga Agustus merupakan waktu terbaik karena cuaca lebih bersahabat dan suasana kota terasa lebih hidup.
Pengalaman Berharga yang Tak Terlupakan
Perjalanan ke Belgia bukan sekadar menemani putra mengikuti kejuaraan dunia. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi pengalaman berharga untuk mengenal budaya baru, menyaksikan keindahan sejarah Eropa, serta melihat bagaimana sebuah negara kecil mampu menjaga warisan budayanya dengan begitu baik.
Saya menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brussel, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), serta Belgian Pencak Silat Federation (BPSF) atas dukungan dan kesempatan yang diberikan selama berada di Belgia.
Belgia mungkin tidak sebesar negara-negara lain di Eropa, namun pesonanya mampu meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang mengunjunginya. Dan bagi saya, perjalanan ini akan selalu menjadi kenangan istimewa karena dapat menyaksikan putra tercinta mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia, sekaligus menikmati keindahan negeri yang berada di jantung Eropa. (***)